Aksi Teror Di Indonesia , Mengapa Sering Sekali Terjadi ?
Memuat ringkasan...
![]() |
| Gambar Illustrasi Oleh AI |
Menurut laporan media, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.37 WIB saat Andrie pulang dengan sepeda motor usai berkegiatan di kantor YLBHI. Dua orang tak dikenal yang melawan arus mendekatinya, lalu menyiramkan cairan keras ke bagian kanan tubuhnya hingga ia terjatuh. Reuters menyebut Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada wajah dan lengan, sementara kasus ini memicu kecaman luas dari organisasi masyarakat sipil dan lembaga HAM internasional. Karena itu, serangan ini tidak dapat dibaca sebagai tindak kriminal biasa semata, melainkan sebagai intimidasi serius terhadap kebebasan sipil dan hak warga negara untuk mengkritik kekuasaan. (Reuters)
Ancaman terhadap aktivis merupakan ancaman serius bagi demokrasi karena aktivis berperan sebagai pengamat, pengkritik, dan penyuara kepentingan publik, terutama ketika negara gagal melindungi kelompok rentan. Ketika seorang aktivis diserang, yang disasar bukan hanya individu, tetapi juga kerja advokasi, pengawasan negara, dan keberanian masyarakat untuk berbicara. Serangan semacam ini menciptakan rasa takut, mempersempit ruang aman untuk menyampaikan kritik, dan berpotensi membungkam kebenaran. Reuters mencatat lebih dari 170 kelompok masyarakat sipil mengecam serangan terhadap Andrie sebagai upaya pembunuhan dan bentuk intimidasi terhadap pembela HAM, sementara Komisaris Tinggi HAM PBB Volker TΓΌrk menyebut serangan itu “mengerikan” dan menuntut akuntabilitas. (Reuters)
Dalam konteks yang lebih luas, kekerasan terhadap aktivis terjadi di tengah persoalan ekstremisme dan penyempitan ruang sipil yang sama-sama mengancam demokrasi Indonesia. Terorisme di Indonesia sendiri tidak lahir dari satu faktor tunggal. Kajian August Corneles Tamawiwy menegaskan bahwa aksi teror tidak cukup dijelaskan hanya dari sisi sosial-politik, karena ada unsur keyakinan teologis yang sangat kuat dalam membentuk legitimasi kekerasan. Sementara studi terbaru di Frontiers in Social Psychology pada 2026 menunjukkan bahwa radikalisasi di Indonesia tumbuh dari gabungan krisis makna hidup, narasi ekstrem, jaringan pertemanan atau organisasi, serta identifikasi ideologis yang kuat; khusus untuk JAD, media sosial disebut berperan dalam perekrutan cepat dan radikalisasi yang lebih individual. (Journal Theo)
Faktor digital kini juga menjadi medan penting. Data BNPT menunjukkan Satgas Kontraradikalisasi menemukan 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sepanjang 2025. Temuan ini menegaskan bahwa ancaman kekerasan dan intimidasi di Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk serangan fisik, tetapi juga dalam penyebaran narasi kebencian dan pembenaran kekerasan di ruang siber. Pada saat yang sama, meski kelompok seperti Jemaah Islamiyah telah mengumumkan pembubaran pada 2024, Reuters dan IPAC mengingatkan bahwa risiko sempalan tetap ada. Artinya, kekerasan politik dan intimidasi terhadap warga sipil, termasuk aktivis, tetap harus dibaca sebagai gejala bahwa demokrasi Indonesia belum sepenuhnya aman dari logika kekerasan. (kalbar.antaranews.com)
Lebih lanjut, Andrie Yunus adalah pengacara publik sekaligus aktivis HAM yang dikenal sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Organisasi ini berdiri pada 20 Maret 1998 dan selama ini fokus pada advokasi korban pelanggaran HAM, kekerasan aparat, penghilangan paksa, dan impunitas. Karena itu, serangan terhadap Andrie memiliki makna simbolik yang besar: ini bukan sekadar serangan kepada satu orang, melainkan peringatan keras kepada mereka yang terus mengawasi kekuasaan. Bila negara gagal mengusut tuntas dan melindungi para pembela HAM, maka yang melemah bukan hanya rasa aman aktivis, tetapi juga kualitas demokrasi, perlindungan HAM, dan kepercayaan publik terhadap negara hukum itu sendiri. (Reuters)
Sumber utama:
Reuters, laporan tentang penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, 16 Maret 2026. (Reuters)
August Corneles Tamawiwy, “Bom Surabaya 2018: Terorisme dan Kekerasan Atas Nama Agama,” Gema Teologika (2019). (Journal Theo)
Frontiers in Social Psychology (2026), studi mixed-methods tentang narasi radikal dan napi terorisme di Indonesia. (Frontiers)
ANTARA/BNPT, temuan 21.199 konten radikalisme dan terorisme sepanjang 2025. (kalbar.antaranews.com)
Reuters/IPAC, pembubaran Jemaah Islamiyah dan risiko kelompok sempalan, 4 Juli 2024. (Reuters)
Wikipedia , Andrie Yunus (Wikipedia)

Komentar